Selasa, 29 Mei 2012

Panggil Dia Nona X


source : google edited by : me


Hiii semuaaa, udah lamaaa (banget-nget) ngga cuap-cuap diblog ku yang satu ini, do you miss me? Coz i miss you all so so so muchh.. hohohoo..  Oke, let’s start discuss something, yuk... Jadi gini ceritanya, as you know, aku sekarang sedang tahap proses menuju ke jenjang pernikahan, sedang ribet-ribetnya mempersiapkan ini itu, but the VERY IMPORTANT THING is kudu siap mental banget, karena pernikahan sejatinya bukan hanya sibuk mempersiapkan pestanya, tapi juga  sibuk mempersiapkan bathiniyah-nya *sedap.

Nah, siang hari itu tiba-tiba ada seorang sahabat bbm aku (kita panggil dia Nona X), Si Nona X sedang dirundung kebingungan tentang jodoh, kondisinya saat ini adalah dia sudah cukup umur untuk menikah, orang tua sudah mendesaknya untuk segera menikah, calon belum punya, pacar juga, tapi dia dijodohkan oleh tantenya dengan seorang cowok yang sudah berumur (lebih tua), mapan, baik, dan siap menikah dalam waktu dekat (tidak main-main lagi), bahkan dalam waktu 5 bulan dia menyanggupkan untuk mempersiapkan pernikahan (jika nona X mau). Nona X dan cowok ini sudah berkomunikasi beberapa kali, so far dia seneng-seneng aja, tapi pas pertama kali ketemu dia kurang sreg sama cowok ini, katanya jauuh banget dari apa yang dia bayangin sebelumnya. Nona X pun bingung, pusiiing mikirin keadaannya sekarang, ditambah sekelilingnya juga ngomporin dia untuk jadi sama cowok yang diajukan oleh tantenya itu.

Cukup jelas ya gambarannya? Mumpung nih aku sedang dalam proses belajar ke arah pernikahan, karena mulut juga gatel mau komen dan tangan iseng mau ngetik, jadi izinkan saya sedikit menyampaikan pendapat atas kondisi diatas ya Nona X.. *ehem *benerin kudungan. :p

I’ll make point by point jadi lebih enak dibaca dan jelas pembagian arah pembicaraannya.

1. Kalau masalah umur memang bukan patokan nomor satu dalam pernikahan, tetapi memang harus diutamakan, apalagi perempuan (berhubungan dengan masa kehamilan dan kesuburan loh ya maksudnya, bukan persepsi orang tentang perawan tua dll), lebih cepat lebih baik, range 20 – 30 tahunan kalau bisa. Jangan keenakan dengan status single, kerjaan ada, bisa senang-senang sendiri mumpung umur masih muda, ngga ada yang ngatur, ini yang bahaya, we have to remember kalau kita ditakdirkan berpasang-pasangan, wanita kodratinya menjadi ibu dan mengurus suami, bukankah wanita sukses itu yang sukses juga berada disamping lelakinya dan membesarkan anak-anak? Dan bukankah lelaki yang sukses adalah yang sukses memimpin, menghidupi, dan membimbing keluarganya meraih surga? Subhanallah..

2. Nikah harus dipandang sebagai ibadah, jadi akan lebih mengalir ngejalanin semua proses menuju kesana, karena kita serahin semua ke ALLAH, biar DIA yang atur, kita hanya tinggal berusaha semaksimal mungkin dan berdo’a khusyuk. Dijadikan target juga harus, tapi target nikahpun berbeda dengan target kerjaan, ini bukan soal “yang penting nikah”, more than that, kita akan habiskan seluruh sisa hidup dengan orang yang sama, harus ada campur tangan keluarga terutama orang tua, dengan restu mereka Insya Allah, Allahpun merestui kita.

3. Ngga ada jaminannya yang pacaran lebih lama akan lebih langgeng dalam pernikahan, begitu pula sebaliknya. Beneran deh, ngga ada jaminan sama sekali, memang akan lebih enak menjalani pernikahan dengan seseorang yang sudah kita kenal sifatnya, wataknya, kesehariannya, tapi dipernikahan akan lain lagi, yang sudah lama kita kenalpun pasti ada sifat-sifatnya yang belum kita tahu. Tidak tinggal serumah dengan tinggal serumah beda banget loh, kita akan menemukan hal baru setiap harinya yang tidak kita tahu sebelumnya.. so, jangan takut, lebih lama atau lebih sebentar pdkt dengan seseorang ngga menjamin we know who they are.

4. Sodara, teman, tetangga, siapapun ngga akan pernah berhenti bertanya, contoh : “sudah lulus belum?” Ketika sudah lulus, “sudah kerja belum?” ketika sudah kerja, “kapan nikah?” ketika sudah nikah, “kapan punya anak?” ketika sudah punya anak, “kapan mau nambah lagi” begitu begitu begitu seterusnya. Jangan deh dijadiin omongan yang begitu nusuk kehati, jadiin aja pertanyaan itu sebagai do’a, toh.. ya pertanyaan itu kurang lebih adalah dukungan mereka, mereka ingin ngeliat kita begitu. Kalau mereka mendukung ini itu pun jangan dijadikan kecenderungan keputusan kamu, tetap, yang berhak atas hidup kita ya kita sendiri, kita berhak memutuskan sesuatu tanpa peduli omongan orang, kok.

5. Ajak dia kerumah, kenalin ke orang tua, mungkin first impressionnya ngga bagus, kurang sesuai dengan yang kita harapkan, it’s okey, kita juga ngga tahu kan first impression dia ke kita, siapa tahu sama kecewanya. Beri dia kesempatan ke 2, 3, 4 sebelum terlalu dini memutuskan suka/tidak suka dengan seseorang. Nobody is perfect, berhenti egois, coba lebih legowo dan positive thinking, karena bukan yang paling sempurna yang kita cari, tapi yang paling bersungguh-sungguh dan saling bisa membawa satu sama lain menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

6. Rasa cinta, balik lagi ke CINTA, yang seolah dijadikan HARGA MATI buat menolak “GUE NGGA CINTA” –jreeeeng-- selesai deh. Hihii.. memang benar cinta tidak bisa dipaksakan (semua yang dipaksakan memang ngga enak), but somehow tanpa kita sadari cinta itu bisa tumbuh pelan-pelan dan berkelanjutan. Cinta adalah perasaan murni yang kadang dilapisi emosi, benci dan gengsi si manusia itu sendiri. Belajarlah menyaring cinta dari segala yang melapisinya, then you will find a real love.

7.  Tidak selamanya cerita Siti Nurbaya dijadiin patokan kalau perjodohan itu serem, ngekang, maksa, heyy.. come on.. kita semua punya cerita hidup berbeda-beda, ada yang memang jalannya ketemu jodoh di angkot, di sekolah, di konser musik, di kantor, adanya yang memang usaha mati-matian dulu buat dapetin seseorang yang dia cinta, ada yang gampang banget ternyata memang saling suka, dan aku rasa perjodohan bukanlah cara yang aneh yang harus serta merta ditentang. Orang yang menjodohkan kitapun pasti niatnya baik dan untuk kebaikan. Jangan memandang perjodohan itu kuno, tapi anggaplah ini mungkin salah satu jalan yang Allah kasih, dicoba ngga ada salahnya.

8. “Mikir-mikir, kepikiran, pusing sendiri, he is not my type, ngga sesuai tipeeee, ngga gue bangeeettt” Duluuu memang akupun sama, punya kepengenan ketemu cowok yang begini, begitu, sifatnya harus begini begitu, hmmm it’s just a theory, for sure, kenyataan tidak plek sama dengan keinginan, we need to deserved that. Yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik menurut Allah. Begitupun jodoh, misteri banget, kita ngga bisa prediksikan itu. Berhenti ngoyo, yang hanya akan buat kita berkutat dengan pikiran yang sama, cobalah untuk lebih ikhlas dan menjalani apa yang dekat, kadang yang jauh kita harap-harap justru yang dekat-dekat juga yang jadi.  Dan ingat, waktu terus berputar, if he is not your type you still have a time to change him.. paling tidak, kita bisa mengarahkan dia menjadi seperti yang kita mau (selama itu dalam arti positif), sekali lagi PROSES, tidak ada yang instan.

Intinya sih dari kesemuanya just try, coba, kalau kita ngga coba kita ngga pernah tahu. Mikir boleh, kebanyakan mikir juga bikin setress, lebih enak dijalanin, jadi kita cepet tahu dia baik atau engga buat kita, kalau ya lanjut, kalau engga ya stop, banyakin istikharah minta petunjuk Allah. Poin-poin diatas juga bukan hanya buat Nona X lho.. general juga, dan minimal itu pendapat yang aku serap, aku terima dan aku alami sejauh ini. Don’t stop learning.. ngga ada alasan untuk berhenti belajar, belajar memahami hidup dan kehidupan, lalu setelah kita paham tidak ada salahnya lagi untuk dibagi dan disampaikan untuk kebaikan.

Huwaaaaaaa.. so happy bisa dengerin curhat temen dan share juga disini, maaf ya Nona X, bukannya aku ngga keep a secret (karena kamu ngga minta ini jadi rahasia juga kaan hehehe), siapa tahu ada yang dikeadaan sama atau minimal ada yang dapet pencerahan juga dari sedikit tulisanku ini. 

Semoga yaa..

See you on the next post...

NOURA

Rabu, 18 April 2012

I heart you, Mbak yu..


Syaza - Mas Hafez (Alm) - Fira Basuki
(Taken from her twitter account)

My deep condolences for your lost Mbak Fira.. ngga kebayang rasanya kehilangan suami yang baru beberapa bulan menikah dan sedang dalam keadaan mengandung seorang bayi mungil. GOD has a great plan for you Mbak, mungkin menurut kita ini cobaan yang teramat berat dan tapi sungguh yakin dibalik ini semua Allah sudah menggariskan dengan sempurna dan kita tinggal menjalani sisanya dengan sebaik-baiknya.

Mungkin aku mau cerita dulu gimana bisa tahu siapa Fira Basuki. She’s so talented, gaya menulisnya aku suka, Mba Fira juga sangat mengerti dan menghormati budaya jawa sehingga kental sekali nuansa jawa dibeberapa karya maupun tweet kesehariannya. Yang suka baca majalah Cosmo juga pasti tahu kalau siapa dia. Mandiri, cantik, pinter, humble,  friendly bangettt ngett ahhh.. kagum ngga henti sama kamu, Mbak yu.. (meski kita belum pernah ketemu).

Pertama aku tahu Mbak Fira menikah lagi itu dari Bio twitter yang tak sengaja terbaca, akupun kepo langsung search twitter suami mbak, oooalaah mbak Fira sudah menikah lagi ya, tapi koq ngga ramai ya, banyak juga beberapa seleb yang nge-tweet ke mbak protes ngga diundang. Sempet penasaran juga, ada  apakah gerangan? Hmmm.. dan sempat membaca juga tweet-tweet yang tidak enak dibaca. Apapun itu, sebagai seseorang yang mengagumi Mbak, aku ikut senang dan mendo’akan kebahagiaan Mbak.

Lewat twitter juga-lah aku tahu Mbak akhirnya hamil dan lagi seneng-senengnya update segala sesuatu tentang kehamilan, check ke dokter, makan makanan sehat, pake flat shoes ke kantor, bla bla. Aku ikut senenggg Mbak baca tweet-tweet itu. Sampai waktu malam Mbak update supaya kita mendoakan suami Mbak yang sedang koma. Apa?? Komaa?? Sakit apa?? Koq bisa?? Koq Mbak Fira engga cerita sebelumnya ya?? Akupun bertanya-tanya Mbak. Kepo lagi aku baca TL Mbak Fira mungkin aku skip info. Dan ya benar saja saat itu Mbak memang belum menjelaskan apa-apa, Mbak cuma bilang Mas Hafez koma di Rumah sakit di Jogjakarta.

Yang paling mengejutkan lagiiii adalah ketika mbak update innalillahi.. aku ikhlas suamiku bla bla.. Ya Allah.. entah, entah kenapa rasanya pilu, miris, lemes mbak. No, ini bukan lebay, engga kebayang banget mbak berada diposisi itu dan harus sanggup menerima kenyataan Mas Hafez sudah ngga ada. Pas aku baca tweetnya Mas Hafezpun terakhir mention mbak dan bilang kangen.. Oh Tuhaaan.. seperti di sinetron.

Dengan kehilangan, Mbak Fira sekarang jadi lebih sering nge-tweet tentang kenangannya bersama almarhum, bagaimana mereka bisa jadian, kemudian menikah, terus menceritakan tentang kelebihan-kelebihan Mas Hafez yang mungkin belum banyak yang tahu dan semakin membuktikan bahwa orang baik disayang Allah, dan Mas Hafez salah satunya. Lucky you, Mbak.. Mbak beruntung dipisahkan sang khalik bukan karena pisah gengsi atau emosi yang dibuat sendiri, itu namanya cinta mati, cinta yang dipisahkan kematian, namun sejatinya akan selalu abadi sampai suatu saat kalian akan disatukan kembali.

I learned a lot from your lost mbak, betapa kita jangan sering mengeluh tentang kebiasaan yang nyebelin dari pasangan, karena somehow kita bakal kangen akan kebiasaan-kebiasaan itu, bilang sayang jangan ditahan-tahan, menghargai kebebasan pasangan untuk melakukan yang dia sukai, selalu berusaha romantis walau dalam skala kecil, merencanakan masa depan bersama, bertanggung jawab dan berani mengambil tindakan pasti untuk seseorang yang kita cintai. Aku yakin Mbak, ada banyak orang yang terinspirasi menjadi lebih baik dari cerita hidupmu.

Aku sedang mempersiapkan hari bahagiaku yang mungkin tinggal beberapa bulan lagi, aku butuh penguatan, butuh keyakinan butuh bekal mengarungi kehidupan kedepannya, dan aku sedikit banyak mendapatkan itu dari Mbak.. suwun Mbak yu.. tetaplah tegar, tetaplah menebar kekuatan, i’m sure you can do better  Mbak.. pasti Mas Hafez disyurga sana bangga punya  istri seperti Mbak. Semoga kelak anak Mbak lahir sehat dan mengagumkan seperti bapak dan ibunya. Aamiin.

I heart you, Mbak yu. :*

Kamis, 05 April 2012

Menghujam Jantungku


Ayo blog walking di BLOG baru ku yuuukk.. just click here and ENJOY! 

Salam,
Bride to be :p

Rabu, 21 Maret 2012

PENGUMUMAN - PENGUMUMAN


Hooooaaahhh.. APAAAA KAAABAARRR SEMUAAAAAAAAAAAA.. *teriak menggelegar* hehe..

Oppss, jangan ditanya berapa lama blog ini hampa tanpa update-an, mulai basi, dan bersarang laba-laba *sungguh maafkan pemiliknya*.

Anyway... the reason is... yeah i’m so busy, bukan "sok busy" loh ya, tapi beneran sibuk, meski cuma dipikiran. So many things that i used to think and done, mulai dari ini itu, perintilan ini itu, urus sana sini, cari sana sini, keribetan apa sihhhh?? Hihi.. yaaa.. keribetan yang bisa dibilang ku tunggu-tunggu dari dulu, keribetan yang bercampur semangat, keribetan yang berbalut debar-debar,bisa ditebak-kah? Yes, i’m bride to be, Alhamdulillah... praise the GOD, i feel so blessed.

Nah, sesuai dengan nadzar dan keinginan, i will make one new blog about all the preparation.. hmmm.. yay! *emang dasar banci blog aja* :P So, semua akan jelas pembagiannya ya.. blog ini (NOURA) lebih ke penyaluran kata-kata, human interest, pelajaran hidup, sharing, kalau blog NPG (NOURA PUNYA GAYA) lebih ke foto-foto, tips, make up, hijabers dll, dan blog yang terbaru dan akan segera tayang adalah blog semua persiapan menjelang hari besarku nanti, dan insyaAllah kehidupan setelah merried juga akan tertoreh disana *lemesin jari*.

Semoga semoga semoga hasil-hasil karyaku ini makin banyak yang baca, bermanfaat atau setidaknya menghibur kalian yang sedang butuh bacaan *hihi.
Yihhhaaaaaaaaaaaaaa!!! I’m so excited!!!! 

Love you all.. *kisssssssssssss..

Jumat, 10 Februari 2012

Stronger Than Yesterday

Sayang, akhir-akhir ini aku merasa bagai raga tak bernyawa, sudah tidak tahu inginku apa, sejak amarahku yang memuncak. Sebuah keinginan sederhana yang tak terdengar olehmu, semudah itu kau buat semua ria menjelma menjadi duka cita. Bodoh memang untuk ku percaya kamu mengenalku, kamu tahu isi hatiku, kamu berkorban sedikit waktu. Asal kamu tahu sayang, perempuan suka dibuat spesial oleh orang yang dia cinta, didahulukan kepentingannya, apalagi untuk kepentingan bersama, sedikit saja kamu mengesampingkan keegoisan diri, maka kamu akan memenangkan cinta dia selamanya, tapi jika tidak? Inilah akibatnya, kecewa yang akan terus terbawa.

Tahukah kamu sayang, bahwa hati seorang perempuan adalah yang paling sensitif!  Ya, se-lembut dan semulia hati Ibumu, maka jikalau kamu mengerti dia, pasti tak sulit juga untuk kamu mengerti aku. Hati perempuan yang berusaha selalu menerima meski tak seindah angan, mengalahkan segala keegoisan dan memaafkan segala kecurangan. Hati yang lirih berdo’a di kala kamu jauh, kala kita tidak saling berdekatan, bahkan dikala sudah tersakiti sekalipun. Hati yang mendadak sembuh dengan sendirinya saat kamu mengurai janji indah, harapan masa depan atau sekedar memuji basa-basi.

Diri ini sudah tidak boleh mempunyai amarah, sekalinya amarah hanyalah amarah, bukan membela keberadaannya, namun kita semua tahu ketika amarah menguasai apapun bisa terjadi, apapun bisa disebut, sadarkah kamu? Sesering itu amarah merasuki kamu dan aku masih bisa diam, mencoba membuang segala prasangka, dan menganggap itu bukan kamu yang sebenarnya. Lalu ketika keadaan berbalik? Aku tidak mendapatkan pemakluman, semua dianggap kurang ajar, dan terlanjur tersebar-sebar.  Sungguh ku memohon padamu sayang, sadarlah, yang kamu pacari ini bukan bidadari, dia manusia, sama sepertimu juga, jadi berhenti menuntutnya untuk sempurna.

Sayang, aku minta maaf, kalau kekuranganku sebagai manusia tidak bisa kamu terima, tidak bisa kamu maafkan, tapi akupun bukan manusia bodoh, yang sudah tahu salah tidak berbuat apa-apa. Sesegera mungkin aku luruskan segalanya, aku hadapi, tidak lantas membiarkan segalanya berlarut. Dimalam itu rasanya ingin sekali menjerit!!!! TUHAANNN Engkau tak adil!!! Kemudian aku berfikir lagi, ohh aku salah, salah, ini adalah cara Tuhan menaikkan derajatku, bahwa aku sedang “dikuatkan” untuk menghadapi dunia yang memang (selalu) tak adil.

Sekarang, ku tak tahu rasa apa ini, seolah cintaku memiliki cara yang salah, padahal setahuku cinta tak pernah punya aturan baku, let me love you with my own way.. masih berlakukah itu? Jika tidak, aku dan jutaan orang didunia inipun sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.




Everything seems gonna be different since that day.. you will never know me, dear.. never..

Selasa, 07 Februari 2012

Aku dan Pilu


Hujan ringan berpotensi deras
Secangkir kopi instan yang masih mengepul
Dengan hati yang direndung pilu
Kombinasi yang pas!
Begitulah rasa yang ku nikmati sore ini...

Cinta, lagi-lagi tentangnya, seolah tidak pernah akan habis kata untuk membahas, hasrat yang terkuras dan emosi yang memanas. Yes, perasaan pilu ini kembali disponsori oleh cinta yang sedang diuji kesetiaannya, kesejatiannya, dan kemurniannya.

Aku lelah, aku hanya ingin dicinta dengan sempurna olehmu, tidakkah perasaan kita sama? Meski kadang amarah itu meradang, emosi itu meletup-letup, bibir salah berucap, fikiran salah dimaksud, namun kita selalu bisa mengatasi, berlapang dada dan tersenyum kembali. That’s love supposed to be, sesengit apapun pertengkaran, selalu bisa berakhir dengan pelukan, karena (harus) ada hati yang menyelamatkan.

No, ini bukan pembenaran atas kesalahanku, kesalahan tetap kesalahan, and i learned a lot, aku belajar banyak dari situ, aku manusia, wajar salah, tapi aku berusaha bertanggung jawab untuk memperbaiki dan menjadi lebih baik (vise versa).

Sudah ku singkirkan segala mau-ku, segala ketidakadilan, segala kecewa yang mungkin hanya aku saja yang bisa merasa. Aku tidak ingin tenggelam dan meratapi, aku ingin berdiri tegak atas segala tuduhan, bangkit dan tersenyum. “Aku masih ingin kita baik-baik saja”

CINTA! Serumit itukah? Padahal harusnya kita sama-sama tahu dan berpulang pada impian indah, cita-cita mulia, dan harapan yang sudah dibangun sampai sejauh ini. Aku percaya kamu punya sikap dan pemikiran yang jauh lebih dewasa, berprinsip jelas, bisa membimbing dan lebih siap menjadi imam keluargamu, kelak.

*ini koq keyboardnya basah sihhhh*

Oh, itu air hujan yang menetes lewat mataku.

Kamis, 12 Januari 2012

Surat Sahabat (II)


Apa kabar?

Hemm.. sibuk apa sekarang?

Persiapan sudah sampai mana?

Kabar keluarga kamu gimana?

Kamu lagi apa say?

....

Aah, kikuk! Basa-basipun jadi kikuk! Serba “aneh” rasanya yah say. Meski rasanya ingin biasa, tapi ujung-ujungnya kata-kata yang keluar tidak lepas, seperti ada yang mengganjal, tertahan, entah apa, padahal ngga ada apa-apa juga.

Its been a looong time since that creepy moment, kalau tidak salah hitung sudah hampir tiga tahun, lupa? Tidak mungkin, hanya diingat sesekali sedihnya, lalu kembali aku mendoakanmu dalam hati. 

Say, jujur.. aku kangen, aku ingin mengulang masa-masa seru kita, ketawa bareng, curhat-curhatan, belanja ini itu, muter-muter mall sampe pegel, atau pake-pakean kuteks (sampe ke jari kaki), sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang, kebersamaan. Bersyukur itu pernah terjadi diantara kita meski kini serba tidak mungkin, aku tahu pasti kamu tidak akan pernah mau memulai, dan akupun terlalu lemah untuk berani memulai. Jadi, biarkanlah saja waktu yang membawa ini semua, i believe time will heal the pain. 

Kalau boleh sedikit berandai, andaikan saja tidak ada kejadian itu, andai saja kamu bisa sedikit memahami bagaimana jadi aku, andaikan kamu bisa menyingkirkan kepentinganmu dan lebih melihat dari sisiku, andaikan aku tega mengungkapkan yang sebenarnya, andaikan aku tidak mengalah, andaikan aku membuka semua yang ku tahu,.. mungkin lain cerita, lain kenyataannya sekarang, tapi.. aku sudah memilih, aku memilih diam, meski konsekuensinya pahit, toh.. pada akhirnya satu-satu terjawab, yang paling keras memakiku lama-lama menciut, kacrut!  

Hufff.. maaf say, memang menguras emosi kalau sudah membahas ini, aku, aku juga manusia, salah satu situasi yang berat bagi aku, disalahkan dari berbagai arah, dan yang menyalahkannya itu hanya menutupi kesalahannya pula, cari aman, cari muka baik, jadi dengan gampangnya menyebar omongan berbeda-beda, akting baik niat buruk! Sedihnya, kamu tahu itu say, kamu tahu banget, tapi kamu tidak membela ku sama sekali, malah terus menyalahkanku lagi, pedih.

Sudahlah, bahkan sampai saat ini aku baik-baik saja koq, tidak kekurangan suatu apapun, aku percaya, Tuhan sedang mengajariku praktek untuk selalu sabar, ikhlas dan tersenyum. 

Anyway.. 

Undangan pernikahanmu sudah sampai ke tanganku say, kaget loh, warnanya hijau? Jangan bilang karena aku suka warna itu jadi kamu pilih hijau juga, tapi kalau benar itu alasannya, aku seneng banget, berarti kamu masih mengingat warna kesukaanku, setidaknya. 

Selamat yah sayang.. finally berakhir juga masa pencarianmu dengan orang yang tepat (menurutku), dia laki-laki yang paling menerimamu tanpa embel-embel, mencintaimu tanpa banyak karena, dia yang bisa sabar menghadapi “cobaan” dari berbagai arah (tadi). Semoga acara kalian berjalan dengan lancar sampe hari H dan seterusnya, langgeng sampe kakek nenek, bahagia dunia akhirat, jauh dari godaan yang “dibikin-bikin”, all the best! Aamiin.

Hmmm.. kebayang, sekarang aja kita jarang berkomunikasi, hanya kalau ada event besar kita bisa bbm-an, aku tahu kabar kamu hanya dari recent updates, tidak apa-lah, daripada tidak sama sekali, tapi say, aku sangat tidak keberatan kalau kamu mau cerita atau someday butuh seseorang buat curhat, kamu bisa dateng ke aku, aku masih sahabatmu say, jangan lupa yah.

Okey, ngga sabar mau dateng ke pernikahanmu, sayang..  cipika-cipiki.. melihat senyum bahagua kalian, bertemu keluargamu.. aaah i hope that will be a great moment for us.. See you.. :’)


AKU
Sahabatmu.

Kamis, 08 Desember 2011

Kabar-Kabari (Bukan Infotainment)



“jam berapa kita ketemuan?”

“kabarin yah kalau udah dikantor..”

“sepuluh menit lagi sampe, macet dijalan”

Kabar, kabar, kabar..

Seberapa penting sih peranan ‘kabar’ bagi kalian? 

Buatku, jelas penting banget, bagaimanapun manusia butuh dan saling berkomunikasi satu sama lain. Buat janjian sama temen, klien, boss, keluarga, sekedar memberitahu keberadaan kita, kita lagi ngapain, jam berapa akan sampai, jam berapa akan datang, dst. Tidak diragukan lagi dong tingkat pentingnya si ‘kabar’ ini.

Hemm.. oke, mari kita persempit dulu bahasannya, lalu perlu juga ngga saling memberi ‘kabar’ dalam hubungan kalian dengan (let’s say) pacar?

*PENTIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINGGGGGGGGG* terdengar suara bersahut-sahutan dari seluruh penjuru nusantara. *lebay

Hehe..

Tenang-tenang..

Akupun sependapat sekali koq dengan kalian. Somehow bagiku memberi kabar berada diposisi puncak pentingnya dilaksanakan bagi kelangsungan hubungan baik bersama. Kenapa? Ya bagaimana membangun kepercayaan tanpa adanya komunikasi yang lancar? Hanya mengandalkan feeling sajakah? Bullsh*t *opppss sorry, but this is real, dude!

Seberapa susah sih bagi kalian memberi kabar kepada pacar?

Kalau dijaman batu mungkin iya, ngga ada alat komunikasi yang simpel dan canggihnya sealaihim gambreng. Kebayang ngga? dijaman itu kita harus teriak-teriak – auooo uoooooo-  demi orang lain tahu kita dimana, atau untuk memanggil teman-teman berkumpul *tarzan kali ah. Nah sekarang? Everything more simple, you only use your finger, ketik-ketik, terkirim saat itu juga, ngga pake lama, mau sms keq, bbm-an keq , twitter-an keq, fb-an keq, apalagi blackberry atau apapun gadget kamu dilengkapi dengan power glue alias nempel terus ditangan setiap saat. Ngga punya punya pulsa bbm, bisa sms, sms pending, bisa telefon, pulsa bener-bener habis? Tukang voucher banyak, merajalela disetiap sudut, atau kamu bisa minta 1 sms ajah ke temen, pasti temen kamu bilang “sesama indos*t ngga? Kalau iya, telefon aja” (maklum di Indonesia ke sesama baru lebih murah). 

Lowbatt? Ngga ada sinyal? Waduuhh alasan klasik yang memang sih sering terjadi. Tapi setahu aku dijaman yang canggih begini juga jarang deh ada yang punya gadget cuma 1, paling tidak ada gadget tambahan yang dimiliki oleh sejuta umat, yap es*a. Ataauu manfaatkanlah fasilitas kantor, kan bisa, tinggal angkat gagang telefon, pencet nomor, ngomong sebentar, beres perkara. 

So? Letak susahnya dimana?

Pernah liat menara pisa? Aku pernah, digambar, belum liat langsung.. hehe.. apa yang terfikir? Susah banget pasti buat menara itu, apalagi miring, dan sampe sekarang masih berdiri kokoh, ngga rubuh, susah ya bikinnya? Coba tanya ke yang bikin Ahmad rezio Pahlevio dan Ronaldo Jeremiaso, koq bisa mereka bikin bangunan sebegitu megahnya? Ooh pastinya karena mereka niat, jadi meskipun begitu susahnya, repotnya, rumitnya, mereka jalanin karena adanya niatan. Begitupun ngga punya pulsa, hp lowbatt, ngga ada sinyal, bla bla tadi, apapun dilakuinlah ya karena adanya niat, kalau emang ngga usaha ya ngga bisa kejadian juga tuh kabar sampe ke orang lain. 

*ilustrasi macem apa ini*

Balik lagi ke si ‘kabar’, kenapa penting untuk kita saling berkomunikasi? Karena kita bukan dukun yang bisa meramal-ramal keadaan, kita itu butuh komunikasi dua arah, saling mendukung, saling jelas. Kepercayaan itu tidak dibangun dalam semalam, butuh proses panjang, butuh bukti-bukti yang jelas terjadi, dan kepercayaan penuh dapat tercipta dari hal-hal kecil yang sama-sama kita tunjukkan dan hargai satu sama lain. Kepercayaan juga seperti keimanan, turun naik grafiknya, selemah-lemahnya kepercayaan, kita butuh siraman keyakinan lagi dan lagi, harus dijaga bersama, bukan satu fihak saja.

*sedaaappp..berguna juga ilmu komunikasi gue*



“Terkadang, kita fokus melakukan hal-hal besar untuk orang yang kita sayang, tanpa kita sadari, hal besar tidak berarti apa-apa tanpa hal kecil yang dengan gampang kita remehkan begitu saja” – NOTED!

Selasa, 06 Desember 2011

Wish you were here..

“Pecenongan itu daerah mana ya, nanya siapa yaa..”

Hmm..

Problemku memang tidak hafal nama-nama jalan, tempat, tidak tau seluk beluk jalanan, cuma khatam daerah petukangan dan sekitarnya. Dan ketika aku mau tahu “jalan ke sini lewat mana ya? – jalan kesitu naik apa yaa?” i always asked him

“yaahh rantai tas putus lagi” – keluhku

Hmm..

Terakhir kali rantai tas ini putus, dia lah yang membetulkannya untukku. Sekarang? aku minta tolong orang lain, dan hasilnya? Rantainya malah rusak!

“sendirian ditengah kota, malem pula, minta jemput siapa ya?”

Hmmm.. 

Coba ada dia, pasti dia selalu siap siaga menjemputku, tidak pernah punya alasan menolak, sedang sakitpun dia rela demi aku. 

“siaaalll, pagi ini kesiangan lagiiii..”

Hmmm..

Teriakannya ngebangunin dengan anda setengah ngeledek adalah alarm ampuh buatku terbangun dipagi hari. “Tetehhh.. bangun.. udah jam delapaaann” (padahal jarum jam masih menunjukkan pukul 6).

“apa? Handphone ilang lagiii?”

Hmmm..

Sudah kedua kalinya handphone ilham hilang dirumah sendiri, andai dia disini pasti orang itu sudahh... – ahh sudahlah.

“beli minuman apa yaa, liang teh?”

Hmmm..

Jika sedang berada dimini market entah kenapa rasanya ada yang nitip minta dibelikan liang teh, padahal sekarang dirumah ngga ada yang doyan.

“duhh ngga bisa tiduuurrr..”

Hmmmm..

Insomnia masih melanda mataku yang cantik ini, dulu sering keganggu suara ngoroknya, sekarang sepi-sepi saja, aku lebih sering mendengar suara kokok-an ayam tetangga.

 ***

Kemarin dada ini sesak, badan ngga enak, demam, susah nafas, kepikiran kalau tiba saatnya dijemput sama Gusti Allah, belum sempat minta maaf sama dia, bagaimanapun aku yang salah lah yah, mengalah saja.

Inilah puncak-puncaknya letih, capek, jenuh, muak, benci, kecewa melebur jadi satu, tapi somehow a simple thing always came and remainds me of you. Seberapapun besar dan pelik masalahnya kita tetaplah kita, diciptakan berdarah sama.

Iri, cemburu, dengki sama orang-orang yang tidak diberi masalah yang sama sepertiku, astaghfirullahh.. maafkan ya Allah, aku percaya  ini caramu membuat aku lebih kuat.

Is it anyone care about me? NO, i just can say no one, no body.. yang paling tulus peduli padaku hanya Gusti Allah saja, DIA available 24 hour buat mendengar setiap raungan hati yang terkadang teramat pedih untuk diungkapkan hingga air mata bergelinangan. Tidak perlu semua orang tahu duka ku, biar, biar ku menikmatinya sampai habis dan kebahagiaan abadi menghampiri.

Bersyukurlah sesering mungkin, don’t compare your life, just enjoy it. Allah maha baik, dia tahu yang terbaik, dan tidak mungkin menguji diluar batas kemampuan umatnya. 

Damn.. i have to say this..

I miss you so bad :"(

Damn! Damn! Damn!
What I’d do to have you here, here, here
(I wish you were here)
Damn! Damn! Damn!
What I’d do to have you near, near, near
(I wish you were here)